Posted by : Cemungudhfebyimoet Chibichibie
Sabtu, 30 Mei 2009
Aku tak pernah mengira bahwa aku akan bertemu dengannya. Sungguh merupakan suatu pertemuan yg indah. Seseorang yg unik, bersuara lembut, dan berkharisma. Pandangan pertama membuat aku mabuk kepayang, tapi ku coba tuk menepisnya. Aku mencoba dekat dengannya sebagai teman tanpa ada bumbu cinta karena aku masih memiliki bunga cinta yg lain pd saat itu, namun bunga itu seakan mulai layu sampai pada akhirnya ku tahu bahwa bunga itu telah gugur dari tangkainya dan mati perlahan di awal bulan januari. Sedih sih, tapi tak mengapa. Aku tahu itulah hidup, hidup tak akan indah tanpa cobaan, hidup tak akan pernah bisa diceritakan tanpa ada cobaan yang menerpa.
Ditengah gundah hatiku tuk mencari pangeran cintaku, tanggal 28 Desember 2008. Aku bertemu dengan teman baruku, seorang cowok. Namanya "Rinto", dia orangnya unik, ramah, punya gaya yg berbeda dan berkharisma. Sesuatu yang beda kurasakan di hatiku. Aneh, bahagia, penasaran, semua rasa jadi satu saat menatapnya. Selama 1 minggu di pagar alam bersamanya, aku merasa nyaman. Aku seakan menemukan sebuah telaga di tengah gurun di hatiku yang gersang. Aku sempat berharap, mungkinkah ia bisa mengisi kehampaan hatiku?. Beberapa point utama yang kutemukan pada dirinya yang membuat aku kagum, antara lain : 1) Sifatnya yang kharismatik, 2) Nomor HP nya mirip dengan no HP ku, 3) Temen2 bilang wajah kami mirip (kata orang sih kalo banyak yang bilang mirip, katanya jodoh), tapi aku nggak yakin tuh...
1 hari ... 2 hari ... 3 hari ... sampai 1 minggu aku bersama teman baru ku. Ku merasakan sesuatu yang beda. Ku menangkap sinyal2 tak jelas dr teman baru ku itu, karena takut salah paham, ku coba abaikan semua rasa itu. Keep enjoying !!! tahun baruan di puncak Dempo, ku merasakan udara dingin menusuk tulang, ku merindukan belaian kekasih ku tapi apa daya dia telah pergi dan harus ku terima keadaan ini dengan lapang dada, toh masih ada teman2 dan sahabat ku yang selalu menemani hari2 ku. Ku coba bahagia, tersenyum, tertawa, dan larut dalam canda tawa merayakan tahun baru 2009. Di tengah detik2 pergantian tahun 2008 - 2009, ku berdoa, ku memohon kepada-Nya dalam hatiku, ku meminta agar diriku diberi kemudahan dalam menjalankan hidup ku. Terutama yang kuminta adalah pendamping hidup yg seiman, sayang ortu n keluarga, setia dan bertanggung jawab. Air mata kesedihan bercampur jd satu dengan air mata kebahagiaan. Sungguh, suatu rasa yg tk bisa ku tuangkan dalam kalimat. Yang aku tahu, aku hanya punya harapan tuk bisa lebih baik dari tahun kemarin.
Seminggu telah berlalu, tiba saatnya kami pulang ke Palembang. Kami pamit pulang pada keluarga di Pagaralam. 02 Januari 2009 Pukul 12.20 WIB, Kak Hibdi, Ticka, Rinto, dan Aku naik motor meninggalkan kota pagaralam, sempat mampir 1 hari di Lahat, di rumah teman baru ku tadi (Rinto). Di rumah itu, mulai ku rasakan debaran hati yang tak menentu. Aku seakan menemukan telaga ditengah gurun gersang di hatiku. Dia yang membuat aku kagum, ternyata mampu menambah rasa kagum ku padanya saat kami berada di rumahnya. Ternyata dia adalah seorang laki-laki mandiri dan seorang anak yang sangat sayang orang tua, terutama Ibu. Walaupun bungsu, dia nggak segan2 mengerjakan pekerjaan rumah yang notabene sering dikerjakan oleh kaum hawa, seperti mencuci pakaian, ngepel, nyapu, bersih2 halaman, dll sekalipun itu dilakukan di depan ku. Oh cinta, mungkinkah ku telah jatuh cinta padanya...???
Dan itu pun terjawab setelah 15 hari berselang sejak aku meninggalkan Kota Lahat (3-1-2009). Pada tanggal 18-01-2009 Pukul 23:03:12 WIB, Rinto menyatakan perasaannya padaku. Ternyata selama 1 minggu di Pagaralam, dia pun menyimpan rasa padaku. Dia bilang "Aku suka padamu, kamu orang yang beda, Bagaimana kalau dirimu menjadi milik ku...???"
Sungguh suatu pertanyaan yang aku tunggu, tapi saat itu aku bingung, aku ragu karena aku tahu ada seseorang yang mengharapkannya. Aku tak mau menyakiti orang lain dengan bahagiaku bersama Rinto. Lalu aku bilang : "Jagalah dan peliharalah dulu sesuatu yang pernah kau punya sebelum diriku...!!" lalu dibalasnya : "Ayam gk ada, ikan Ibu yang piara, burung dah terbang, hanya dirimu yang belum ku dapat, ce ille....!!!"
lucu, bahagia namun ragu pun tak lepas dari bayanganku. Aku ingin memilikinya namun ku DILEMA.
Dua bulan telah berlalu, tanggal 27-02-2009, aku kembali ke Pagaralam tuk hadiri pesta Pernikahan temanku. Aku dan Ticka kembali bertemu dengan 2 pangeran itu, karena kami memang janjian tuk bertemu di Loket Travel Telaga Biru Pagaralam, tempat kami pertama janjian tuk bertemu. Ada yang lain ku lihat dari Rinto, rambutnya yang bulan lalu panjang dan ber"jebet" sekarang dah dipotong pendek sampe mukanya kelihatan bulet, he..he...he... lucu deh. Tapi debaran hatiku saat itu tak lagi seperti pada waktu pertama bertemu dengannya. Aku merasa asing, aneh & .......
Aku ingin berdua dengan dia tapi seolah dia tak bisa membaca tanda2 dari ku (sebel dech). Seakan ada yang dia sembunyikan dari ku. Tanggal 01-03-2009, aku minta kepastian cintanya padaku. Dia bilang : "Aku bener2 suka sama kamu, apa yang harus ku lakukan dan apa harus ku buktikan??? apa aku harus terjun ke Sungai Musi tuk bilang aku sayang kamu....!!! "
Hari terus berlalu, sampai pada malam ini. Aku merenung dan berpikir, "Mungkin aku hanya sekedar kagum, aku dan dia tak bisa saling mencinta dan menyatukan hati". Dia tak bisa jujur dan setia seperti yang ku harapkan (karena aku tahu tipe cowok petualang seperti dia, susah untuk fokus pada 1 hati) aku tahu benar sifat dia karena aku pernah satu hati dengan cowok dengan tipe yang sama dengannya tapi tetap aku tak bisa terima perlakuan yang seperti itu lagi, cukup 1 kali aku bertahan dengan tipe orang yang seperti itu. Kalo dibilang sayang, jujur aku katakan hatiku sudah sangat sayang padanya tapi aku tak sanggup untuk jadi yang kedua di hatinya setelah orang lain. Aku berfikir, mungkin Rinto hanya sekedar kumbang yang bertanda ke bunga cintaku dan mampu mengisi kekosongan hatiku di awal tahun 2009 tapi tak untuk selamanya, "Hanya di awal tahun 2009". Terima kasih Rinto, kau sungguh baik tapi tak cukup baik bagi hatiku. Cinta mu kurasa palsu, maaf ku tak bisa mencintaimu lagi, tapi aku bisa menyayangimu sebatas sahabat hatiku saja.
Ditengah gundah gulana hatiku dengan semua rasa cintaku pada Rinto, seakan tahu jejak maksudku, Rinto berusaha meyakinkan maksud hatinya padaku. Aku berusaha menghormati maksudnya tapi tetap saja aku masih menyimpan rasa ragu. Aku tak benar2 100% yakin padanya. Sampai hari ini dia tetap menganggap status hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Setiap hari dia memberikan kata2 sayang, pujian dan rayuan pulau kelapa yang mungkin bagi cewek lain bisa mabuk kepayang mendengarnya tapi bagiku tidak.
Sampai saat ini, Rinto terus berusaha meyakinkan diri qu. Sementara itu, dari pihak keluarga ku ternyata telah menyelidiki secara diam-diam tentang dirinya. Dari hasil penyelidikan itu, mereka mengatakan padaku bahwa mereka tidak menyetujui hubungan ku dengan Rinto. Aku tahu mereka hanya menilai Rinto dari penampilan luarnya saja, mereka tidak tahu apa yang dilakukan dan dirasakan Rinto selama ini. Aku sadar Rinto hanyalah seorang Rinto yang tak punya kuasa apapun, dia bukan orang berada, dia bukan seorang pejabat, dia bukan seorang yang punya sesuatu untuk dipamerkan, tapi sebagai manusia biasa Rinto punya sesuatu yang dapat dibanggakan yang belum tentu orang lain punya. Aku berusaha untuk tidak memihak siapa pun dan aku tak ingin menyakiti siapa pun. Aku ingin memutuskan semua ini sendiri, biarlah semua saran dan kritik maupun larangan yang ku dapat aku tampung dulu. Diantara semua rasa antara Aku dan Rinto, aku merasa semakin sayang padanya. Aku merasa ada harapan yang bisa kami rengkuh bersama. Aku merasa ada niat baik dari Rinto untuk berubah lebih baik, dan jika aku boleh berharap dia akan berubah menjadi pria sejati yang bisa diandalkan untuk membangun keluarga bahagia bersama diri ku. Rinto pernah mencoba mengutarakan niatnya untuk meminangku. Mendengar dia mengucapkan hal itu, hatiku seakan ingin melompat keluar dari dada ini, aku bahagia, ternyata Rinto memang ingin serius dengan hubungan ini (tapi tetap aja aku masih menyimpan ragu, karena hubungan ini belum cukup kuat berdiri tegak) lalu aku bilang fokuslah dulu pada pekerjaan mu sambil kita mempersiapkan semuanya, baik mental maupun materi. Aku ingin kita menikah pada saat yang tepat, siap mental dan materi untuk membangun sebuah keluarga kecil yang sakinah mawaddah warrahmah, Amin...
ini lanjutan cerita ku ...
Hari ini (24Juni2009), genap seminggu setelah pertemuan terakhir Aku dan Rinto tanggal 17Juni2009. Sampai dengan saat ini dia belum pernah memberi kabar kepadaku. terakhir sebelum dia pulang ke Lahat, dia kasih kabar kalau Ibunya sakit dan Rinto mau pulang menjenguk Ibunya.
Hari terus berlalu sampai hari ini (30Juni2009) sudah hampir 2 minggu tak ada kabar berita dari Rinto. Teman dan Ibunya menanyakan kabar Rinto kepadaku, karena mereka pikir orang yang paling dekat dengan Rinto saat ini adalah aku. Tetapi bagai orang hilang ingatan, aku tak bisa menjelaskan keberadaan Rinto saat ini karena aku pun juga tak tahu dimana dan bagaimana keadaan Rinto saat ini. Aku pun bermaksud ingin menanyakan hal yang sama kepada mereka tentang hal ini. Yang menjadi pertanyaan besar bagiku saat ini adalah "KENAPA RINTO TAK MEMBERI KABAR WALAUPUN ITU ADALAH IBUNYA SENDIRI????". Aku heran, kenapa ini anak kok sebegitu teganya pada Ibu yang sangat mengkhawatirkan dirinya, kenapa dia nggak pernah mikir kalau Ibunya sering sakit-sakitan karena terlalu sering mengkhawatirkan dirinya. Semestinya sebagai pria dewasa, tentunya dia sudah bisa mengendalikan dan memisahkan antara EGO dan Logika. Kalau dengan Ibunya sendiri dia bisa tega, sudah bisa dipastikan kepadaku juga pasti dia bisa lebih tega. Ada apa sebenarnya ini, kenapa ???? aku tak bisa menemukan jawabannya.
kemarin (01Juli2009), aku dapat sms dari nomor tak dikenal. Ternyata itu adalah Rinto. Setelah 2 minggu tak ada kabar, teman dan keluarganya pun juga kebingungan karena Rinto tak memberi kabar, sampai-sampai mereka menelpon ku menanyakan kabarnya. Akhirnya, Rinto memberi kabar kepada ku kalau dia sudah ada di Palembang. Selama 2 minggu ini dia ikut tes Pertamina dan di karantina di Prabumulih, tapi sayang karena belum rejeki, dia nggak lulus. Padahal kalau lulus, salary nya cukup gede, yaa..kalo dikumpulin selama 6 bulan cukup deh buat biaya meminangku... he,,,he,,,he,,,(canda nya padaku).
...........(nanti aku lanjutin lagi)
...........ternyata kisah ini tak berlanjut, OUR LOVE IS OVER....

Posting Komentar